Kemarin, 14 februari... tepatnya hari Jumat di tahun 2014 saya melihat sebuah tayangan televisi yang cukup mencengangkan, tapi rasanya bukan hanya saya yang merasakan hal demikian,tapi nampaknya banyak juga orang di luar sana yang merasakan hal yang sama, mengungkapkan perasaan kecewanya atas sebuah tindakan seorang ustadz yang baru-baru ini 'terangkat' namanya dalam sebuah audisi tertentu. Hal ini terbukti dari banyaknya sebuah tulisan, berita, gonjang-ganjing, maupun foto-foto yang beredar di dunia maya akhir-akhir ini. bahkan konon katanya sempat ada warga yang awalnya 'pengikut' baik ustadz tersebut menyobek-nyobek foto yang terpampang di rumahnya. katanya -kecewa-.
Mengapa hal yang tidak senonoh itu bisa terjadi? apakah jawaban 'manusia tidak ada yang sempurna sekalipun itu Ustadz' bisa dijadikan kalimat pembelaan dalam hal ini?
oh no, saya fikir tidak demikian konteksnya.
terlebih orang tersebut telah banyak dikenal dengan title seorang ustadz di kalangan masyarakat luas.
lantas dalam sebuah acara lain, di sana juga saya melihat orang yang bersangkutan tersebut (Ustadz permen) itu mengklarifikasi kejadian itu, kurang lebih kalimat yang saya tangkap bahwa Beliau mengaku dirinya bukan seorang Ustadz, namun masih seorang santri (anak buah Ustadz), Beliau juga menyatakan bahwa dirinya bukan seorang Kiyai, namun masih anak buahnya kiyai.
laaah???
mengapa baru sekarang mas ngakunya?
lantas selama ini Anda berceramah panjang lebar dengan title Ustadz sepertinya Anda tidak mempermasalahkan hal ini? mengapa setelah kejadian ini Anda bisa mengungkapkan demikian?
Astaghfirullah...
saya juga memang bukan orang sempurna, bahkan setiap harinya dosa yang diperbuat tak bisa terhitung berapa banyak jumlahnya.
namun disini saya tidak sedang membicarakan tentang manusia sempurna atau yang tidak. bukan itu tema kali ini,
yang lebih saya tekankan adalah SIKAP seorang Ustadz yang seharusnya menjadi panutan banyak orang, menjadi teladan jamaah setianya.
Bahkan sempat terlontar statement dari ketua ikadi (ikatan dakwah indonesia) Ustadz Achmad Satori Ismail mengatakan "sikap yang seperti itu, bisa
merusak reputasi ustadz dan orang yang berbuat seperti itu tidak layak
disebut ustadz. status seorang Dai harus sesuai dengan kepribadiannya. Menurut Beliau juga,
mereka dipercayai masyarakat sebagai Dai karena memiliki kelebihan di
atas orang awam dalam ilmu agama, ibadah, akhlak dan perilaku lain dalam
kehidupan sehari-hari.
“Mereka pun harus mampu menjaga emosional dalam berdakwah, ini seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,” ungkapnya.
Ia mencontohkan apa yang telah dilakukan Rasulullah dalam berdakwah.
“Nabi dicaci, dimaki bahkan disiksa tapi tidak emosional bahkan tidak
berubah sedikitpun perilaku hasanah-nya,” papar Satori.
Jadi kalau ada orang sekarang yang mengaku ustadz dan berbuat tidak
pantas, dan tidak sesuai seperti yang dicontohkan Nabi dalam berdakwah,
menurut dia, tidak pantas untuk disebut ustadz."
begitu pemaparannya...
Jadi untuk saya khususnya, dan kita umumnya, jangan terburu-buru memberi title Ustadz pada seseorang yang bisa berdoa, melafadzkan Alqur'an dengan tartil, melantunkan hadits-hadits sohih yang meyakinkan, sekalipun itu memang benar adanya. karena itu saja tidak cukup.
karena yang saya tahu, keimanan seseorang itu berbanding lurus dengan akhlaknya.
dan satu lagi pesan yang sudah lama sekali ingin saya sampaikan,
"janganlah dakwah ini dijadikan untuk main-main, bahkan ada yang hanya sekedar untuk mendongkrak popularitas saja, karena yang saya fahami mereka yang bergelar Ustadz adalah panutan masyarakat luas".
wallahu'alam bis showab.
saya hamba yang penuh dosa hanya bisa menyalurkan aspirasi lewat tulisan ini. (mohon dimaafkan)
Jumat, 14 Februari 2014
Ar-Rahmaan…
Dear…
Kamu tahu alasan mengapa Ar-rahmaan
ditempatkan lebih awal dari Ar-rohiim
dalam setiap kalimat pembuka “Bismillahirrohmaanirrohiim”
(Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) ???
Saya pernah mendengar dari sebuah kajian, kurang lebih ulasannya
seperti ini, “Allah sengaja menempatkan kata Ar-rahman lebih awal karena Allah Maha Pengasih kepada seluruh
makhluk yang ada di muka bumi ini tanpa terkecuali. Baik orang muslim maupun
non muslim, baik orang beriman maupun tidak, jadi dalam hal ini Allah
memberikan sesuatu sesuai dengan usaha yang dikerjakan oleh setiap makhluknya, semakin
besar usahanya, maka akan semakin besar pula hasil yang diperolehnya, perlu
diingat pernyataan ini hanya berlaku untuk kehidupan di dunia saja. Berbeda dengan
kata Ar-Rohiim yang artinya Maha Penyayang. Dikatakan bahwa Allah HANYA
menyayangi orang-orang yang beriman saja, baik di dunia maupun di akhirat
kelak.
Surat ke 55 dari 114 dalam Alqur’an ini terdiri dari 78 ayat yang di
dalamnya terdapat satu kalimat yang unik, satu kalimat yang diulang hingga TIGA
PULUH SATU KALI,
“Maka nikmat
Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Dear… kira-kira ada hikmah apakah dibalik ini semua? Mengapa
hanya pada surat Ar-rahman saja terjadi pengulangan satu kalimat hingga
berpuluh-puluh kali?
Apakah betul-betul penduduk muka bumi ini jarang atau bahkan sedikit
sekali untuk bersyukur atas nikmat-Nya yang teramat besar itu?
Astaghfirullahaladzim…
Dan di penutup surat ini dijelaskan bahwa Surat Ar
Rahmaan menyebutkan bermacam-macam nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada
hamba-hamban-Nya yaitu dengan menciptakan alam dengan segala yang ada padanya.
Kemudian diterangkan pembalasan di akhirat, keadaan penghuni neraka dan keadaan
penghuni syurga yang dijanjikan Allah kepada orang yang bertakwa.
Dear…
Masih mau kah kita engga bersyukur?
Jika dalam SATU surat Ar-rahmaan saja hingga diulang 31 kali perintah
untuk bersyukur, maka rasanya congkak jika manusia yang lemah seperti kita ini
enggan melafadzkan kalimat syukur barang sekali saja dalam sehari.
Bahkan suatu ketika saya pernah mendengar bahwa perintah mengucapkan
kalimat syukur sangat dianjurkan dilakukan dipermulaan doa-doa yang kita
panjatkan sebelum permintaan yang lain. Jika pohon-pohon yang dijadikan pena
serta lautan dijadikan tintanya saja tak cukup untuk menuliskan kenikmatan yang
Allah berikan, maka apalah artinya jika manusia enggan menggerakan lidahnya
hanya untuk bersyukur sekali saja diwaktu pagi dan petang?
Allahuakbar…!!!
Rabu, 12 Februari 2014
Yeaaah !!!
Fungsinya punya teman, kolega, sahabat, atau hanya sekedar berteman di fesbuk dengan orang-orang kece gini nih...
jadi keikutan kece, eh. maksudnya jadi ikut-ikutan semangat 45 kalo pas ngelihat mereka bisa berbuat lebih untuk orang lain, untuk Indonesia dan untuk ISLAM !!!
wuiiih, sampe tetiba media player diganti jadi lagu-lagu harokah :p
ya Alloh meski gak konsisten membara semangat sepanjang hari, everytime, everyday, tapi setidaknya semangat pada waktu-waktu tertentu pun itu adalah bagian nikmat terbesar, dan semoga Engkau selalu menggenggam semangat itu, sehingga bukan saja kerja nyata yang sia-sia yang dijalani, tapi juga menggapai Ridho-Mu yang terpenting.
Yeaaah !!!
Ganbette ne!
Thursday, yap, hari ini hari kamis, tentu hari optimis dong... ;)
optimis kalo hari ini bisa menyelesaikan amanah satu ini, taraaa REVISI.
Alhamdulillah tinggal sekitar 30% lagi lah selesai, doain ya, semoga bisa ngejar wisuda April ;)
dan pastinya...
gak kena SPP lagi, hihihi
malu bo kalo harus ngerengek sambil menengadahkan tangan ke Emak lagi,
woiii inget umur, haha
InsyaAllah selesai.
back to tema...
iiih gregeet deh melihat kerja-kerja nyata mereka,
kadang terbesit kapan ya saya bisa [minimal] seperti mereka, atau bahkan lebih.
Allahku, saya tahu betul kemampuan manusia itu sangat luar biasa, jika mereka mau memanfaatkannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, ^^
And dear, I believe it,
Can be...
Asyiiik... :-*
jadi keikutan kece, eh. maksudnya jadi ikut-ikutan semangat 45 kalo pas ngelihat mereka bisa berbuat lebih untuk orang lain, untuk Indonesia dan untuk ISLAM !!!
wuiiih, sampe tetiba media player diganti jadi lagu-lagu harokah :p
ya Alloh meski gak konsisten membara semangat sepanjang hari, everytime, everyday, tapi setidaknya semangat pada waktu-waktu tertentu pun itu adalah bagian nikmat terbesar, dan semoga Engkau selalu menggenggam semangat itu, sehingga bukan saja kerja nyata yang sia-sia yang dijalani, tapi juga menggapai Ridho-Mu yang terpenting.
Yeaaah !!!
Ganbette ne!
Thursday, yap, hari ini hari kamis, tentu hari optimis dong... ;)
optimis kalo hari ini bisa menyelesaikan amanah satu ini, taraaa REVISI.
Alhamdulillah tinggal sekitar 30% lagi lah selesai, doain ya, semoga bisa ngejar wisuda April ;)
dan pastinya...
gak kena SPP lagi, hihihi
malu bo kalo harus ngerengek sambil menengadahkan tangan ke Emak lagi,
woiii inget umur, haha
InsyaAllah selesai.
back to tema...
iiih gregeet deh melihat kerja-kerja nyata mereka,
kadang terbesit kapan ya saya bisa [minimal] seperti mereka, atau bahkan lebih.
Allahku, saya tahu betul kemampuan manusia itu sangat luar biasa, jika mereka mau memanfaatkannya dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, ^^
And dear, I believe it,
Can be...
Asyiiik... :-*
Selasa, 11 Februari 2014
KACANG BOGOR (BAMBARA GROUNDNUT)
ABSTRAK
SOFIA HANUM. Keragaan Galur-galur
Kacang Bogor (Vigna subterranea (L.)
Verdcourt) Hasil Seleksi Galur Murni Lanras Sukabumi. Dibimbing oleh YUDIWANTI
WAHYU ENDRO KUSUMO.
Percobaan ini
bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai keragaan seratus galur kacang
bogor dari penelitian sebelumnya yang berasal dari Sukabumi. Percobaan
dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikarawang pada bulan Maret-Juli 2013, dan
penanganan pasca panen di Kebun Percobaan Leuwikopo pada bulan Juli-Agustus
2013. Percobaan disusun menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT)
satu faktor yaitu galur yang diulang sebanyak tiga kali. Perbedaan antar
genotipe dianalisis dengan uji F. Jika terdapat perbedaan pada perlakuan, maka
dilakukan uji lanjut menggunakan Duncan
Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa genotipe
tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diamati. Rataan diameter
kanopi, jumlah polong per tanaman, serta bobot polong per tanaman masing-masing
nilainya 45.28 cm, 24 polong, dan 28.83 g.) Pendugaan
nilai heritabilitas dalam arti luas (h2bs) dari semua peubah yang
diamati tergolong rendah yaitu dibawah 20%.
Kata
kunci: diameter kanopi, heritabilitas arti luas, polong
ABSTRACT
SOFIA HANUM. Performance Bambara
Groundnut Lines (Vigna subterranea (L.)
Verdcourt) Result from Selection Pure Line of Sukabumi Lanrace. Supervised by
YUDIWANTI WAHYU ENDRO KUSUMO.
The
objective of the experiment is to obtain information of performance of hundred
strains Bambara groundnut that
originated from Sukabumi. The experiment was conducted at
Cikarawang Experimental Field, in March-July 2013. Post-harvest handling was
conducted at the Experimental Field Leuwikopo in July-August 2013. Experiments used randomized completely block design, single factor with three replications. Differences between genotypes
were analyzed by F-test. If there was a difference
in treatment, then Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5% was used. The
results showed that genotype had no significant effect on all observed
variables. Mean canopy diameter, number of pods per plant, and weight
pods per plant is
45.28 cm, 24 pods, and 28.83 g. Estimation of broad
sense heritability (h2bs) of all
observed variables is low (<20%).
Keywords:
broad sense
heritability, canopy diameter, pods
Celotehan anak gaje
Apatis.
kemarin sore aku baru merasakannya. merasa punya dunia sendiri di tengah keramaian mereka...
berawal dari sebuah celetukan seorang teman dalam sebuah 'lingkar cahaya' membuat rasa mood-ku menurun drastis senja itu.
aaah, biasanya tak begitu.
entahlah...
ragaku seolah fokus pada apa yang disampaikan murobbiku kala itu, namun sesungguhnya hatiku entah menjelajah ke belahan bumi mana.
sempat terlontar beberapa pertanyaan " Ovi sakit ya?", " Ovi lagi mikirin apa? ada masalah kah"
aku hanya mengangguk dengan dibarengi senyum manis sedikit paksaan...
"Gak ada apa2 Mba...", selesai.
beralih pada sebuah handphone yang erat berada di genggaman sang pemilik, haha
ku kirimkan sebuah message singkat untuk Mba-ku nan jauh di sana, di Indonesia bagian timur.
bahkan tak sampai hitungan menit pesan itu pun terkirim,
inilah kebiasaanku. Mengadukan apa yang ku rasa pada seorang akhwat kece, yang sudah ku anggap sebagai Mba kandungku sendiri...
tapi dia...kini... telah berpindah ke tempat kelahirannya...
Mba, kangen :3
pesanpun berbalas,
hingga beberapa ronde :D
***
Waktu pulang pun tiba,
tak lama perjalanan menuju pulang, terdengar lantunan adzan maghrib.
bergegas lebih mempercepat langkah bersama mereka.
kemarin sore aku baru merasakannya. merasa punya dunia sendiri di tengah keramaian mereka...
berawal dari sebuah celetukan seorang teman dalam sebuah 'lingkar cahaya' membuat rasa mood-ku menurun drastis senja itu.
aaah, biasanya tak begitu.
entahlah...
ragaku seolah fokus pada apa yang disampaikan murobbiku kala itu, namun sesungguhnya hatiku entah menjelajah ke belahan bumi mana.
sempat terlontar beberapa pertanyaan " Ovi sakit ya?", " Ovi lagi mikirin apa? ada masalah kah"
aku hanya mengangguk dengan dibarengi senyum manis sedikit paksaan...
"Gak ada apa2 Mba...", selesai.
beralih pada sebuah handphone yang erat berada di genggaman sang pemilik, haha
ku kirimkan sebuah message singkat untuk Mba-ku nan jauh di sana, di Indonesia bagian timur.
bahkan tak sampai hitungan menit pesan itu pun terkirim,
inilah kebiasaanku. Mengadukan apa yang ku rasa pada seorang akhwat kece, yang sudah ku anggap sebagai Mba kandungku sendiri...
tapi dia...kini... telah berpindah ke tempat kelahirannya...
Mba, kangen :3
pesanpun berbalas,
hingga beberapa ronde :D
***
Waktu pulang pun tiba,
tak lama perjalanan menuju pulang, terdengar lantunan adzan maghrib.
bergegas lebih mempercepat langkah bersama mereka.
Sabtu, 08 Februari 2014
Menulis
Menulis memang pekerjaan
orang-orang hebat, menurutku,,,
Pekerjaan yang membutuhkan
konsentrasi, kepiawaian merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat penuh
makna, memotivasi para pembaca, dan membekas di relung hati.
Pernahkah anda membaca sebuah
buku atau artikel, kutipan atau yang lainnya yang tak memberi efek apapun? Atau
bahkan sering?
Jujur saya sendiri sering
mengalaminya. Lantas pertanyaanya berlanjut, apa yang salah dengan tulisannya? isinya
kah? pemilihan frase yang kurang tepat, atau si penulis yang tak punya bakat?
Hemat saya kesemuanya itu ada
korelasinya. Karena untuk bisa dikatakan bagus suatu tulisan itu ada pada
pemilihan kata yang tepat, sehingga merangkai kalimat yang indah, serta penulis
yang mempunyai ‘daya pikat’ , sehingga tercapailah sebuah tulisan indah penuh
makna.
Well…
Belum lama ini saya memang suka
menulis. Berkicau tepatnya…. Dengan melihat definisi bisa dikatakan penulis, rasanya
saya masih sangat jauh dari kriteria itu, ckckc
Baiklah, sebut saja saya orang
yang sering berkicau…terlebih di dunia maya.
Semenjak berdirinya sebuah blog
baru, di sanalah saya merasa diberikan sebuah sarana untuk bisa melampiaskan
uneg-uneg di hati, berseliweran ide di fikiran, yang entah itu bagus atau
tidak, namun insyaAllah ada sedikit manfaatnya, meski hanya secuil saja, hehehe
Hampir puluhan untuk setiap
bulannya tulisan saya terbitkan, tentu dapat dipastikan tulisan itu bertema
perasaan yang saya rasa kala itu. Entah sedih, bahagia, galau, semangat,
dan yang lainnya dan yang lainnya…
Kata sebagian orang, tulisan
merupakan ungkapan isi hati si penulis, emmm
Saya setuju dengan statement ini,
karena merasa. Namun tak juga bisa dikatakan semua, karena tak selamanya mengeneralisir
sesuatu itu benar.
====== Lantas sebenarnya tujuan
menulis itu apa? =======
Ini versi saya sendiri loh,
Jadi tujuan saya menulis
diantaranya adalah mengungkapkan perasaan hati yang secara lisan tak sanggup
terucap, dengan tulisan inilah setidaknya ada ‘pelampiasan’ perasaan, sehingga
sedikit mengurangi beban di dada oleh karenanya.
Kedua, menulis itu melatih
merangkai kata, frase, hingga menjadi sebuah kalimat indah, kaya
penyair-penyair gitu deh… [proses belajar loh ini… he] karena jujur ada beberapa
penulis dari sekian banyak penulis yang teramat saya kagumi karya-karya nya. Mengapa?
Karena karya mereka bukan sembarang karya yang banyak beredar seperti sekarang
ini, upz..
Jadi mereka yang saya kagumi
tulisannya itu, memang benar. Mereka punya ciri khas yang membedakan dengan yang lainnya. [pembeda]. Ckckc
Bukan saja rangkaian
kata-katanya, namun yang terpenting adalah makna indah yang tersampaikan dengan
baik, sehingga dapat meresap pada ruh-ruh si pembaca.
*Karena cahaya takkan bisa
memantul pada kaca yang berdebu.
Selanjutnya, saya meniru orang,
kata mereka di luar sana menulis juga bisa dijadikan bagian dari dakwah kita
loh, mangkannya hati-hati jika ingin memulai menulis, karena sekecil apapun
perbuatan kita akan ada balasannya, inga !! inga !!!, ting :-*
So, menulis lah dengan baik,
Karena menulismu = dakwahmu.
cmiwww
Ini hasil copas :-*
Pekerjaan saya seringkali ngutip sana ngutip sini,
sering sekali pula saya menshare beberapa tulisan yang di dalamnya mengandung manfaat, meski hanya secuil...
dan... tulisan ini salah satunya, tulisan tanpa judul yang saya copas dari salah satu temen FB yang tidak mencantumkan sumbernya dari mana.
selamat membaca & mengambil ibrah... ^,^
Seseorang datang kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kesempitan hidup
yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang
upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.
Namun anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafi'i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.
Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah sya'ir:
جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
_____
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.
Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.
Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.
Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.
Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.
Namun anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.
Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?
Imam Syafi'i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.
Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah sya'ir:
جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره
Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.
Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.
_____
Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.
Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.
Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.
Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.
Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.
Langganan:
Postingan (Atom)
