Selasa, 11 Februari 2014

Celotehan anak gaje

Apatis.
kemarin sore aku baru merasakannya. merasa punya dunia sendiri di tengah keramaian mereka...
berawal dari sebuah celetukan seorang teman dalam sebuah 'lingkar cahaya' membuat rasa mood-ku menurun drastis senja itu.
aaah, biasanya tak begitu.
entahlah...
ragaku seolah fokus pada apa yang disampaikan murobbiku kala itu, namun sesungguhnya hatiku entah menjelajah ke belahan bumi mana.
sempat terlontar beberapa pertanyaan " Ovi sakit ya?", " Ovi lagi mikirin apa? ada masalah kah"
aku hanya mengangguk dengan dibarengi senyum manis sedikit paksaan...
"Gak ada apa2 Mba...", selesai.
beralih pada sebuah handphone yang erat berada di genggaman sang pemilik, haha
ku kirimkan sebuah message singkat untuk Mba-ku nan jauh di sana, di Indonesia bagian timur.
bahkan tak sampai hitungan menit pesan itu pun terkirim,
inilah kebiasaanku. Mengadukan apa yang ku rasa pada seorang akhwat kece, yang sudah ku anggap sebagai Mba kandungku  sendiri...
tapi dia...kini... telah berpindah ke tempat kelahirannya...
Mba, kangen :3
pesanpun berbalas,
hingga beberapa ronde :D

***
Waktu pulang pun tiba,
tak lama perjalanan menuju pulang, terdengar lantunan adzan maghrib.
bergegas lebih mempercepat langkah bersama mereka.

Sabtu, 08 Februari 2014

Menulis



Menulis memang pekerjaan orang-orang hebat, menurutku,,,
Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, kepiawaian merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat penuh makna, memotivasi para pembaca, dan membekas di relung hati.
Pernahkah anda membaca sebuah buku atau artikel, kutipan atau yang lainnya yang tak memberi efek apapun? Atau bahkan sering?
Jujur saya sendiri sering mengalaminya. Lantas pertanyaanya berlanjut, apa yang salah dengan tulisannya? isinya kah? pemilihan frase yang kurang tepat, atau si penulis yang tak punya bakat?
Hemat saya kesemuanya itu ada korelasinya. Karena untuk bisa dikatakan bagus suatu tulisan itu ada pada pemilihan kata yang tepat, sehingga merangkai kalimat yang indah, serta penulis yang mempunyai ‘daya pikat’ , sehingga tercapailah sebuah tulisan indah penuh makna.

Well…

Belum lama ini saya memang suka menulis. Berkicau tepatnya…. Dengan melihat definisi bisa dikatakan penulis, rasanya saya masih sangat jauh dari kriteria itu, ckckc
Baiklah, sebut saja saya orang yang sering berkicau…terlebih di dunia maya.
Semenjak berdirinya sebuah blog baru, di sanalah saya merasa diberikan sebuah sarana untuk bisa melampiaskan uneg-uneg di hati, berseliweran ide di fikiran, yang entah itu bagus atau tidak, namun insyaAllah ada sedikit manfaatnya, meski hanya secuil saja, hehehe
Hampir puluhan untuk setiap bulannya tulisan saya terbitkan, tentu dapat dipastikan tulisan itu bertema perasaan yang saya rasa kala itu. Entah  sedih, bahagia, galau, semangat, dan yang lainnya dan yang lainnya…
Kata sebagian orang, tulisan merupakan ungkapan isi hati si penulis, emmm
Saya setuju dengan statement ini, karena merasa. Namun tak juga bisa dikatakan semua, karena tak selamanya mengeneralisir sesuatu itu  benar.
====== Lantas sebenarnya tujuan menulis itu apa? =======
Ini versi saya sendiri loh,
Jadi tujuan saya menulis diantaranya adalah mengungkapkan perasaan hati yang secara lisan tak sanggup terucap, dengan tulisan inilah setidaknya ada ‘pelampiasan’ perasaan, sehingga sedikit mengurangi beban di dada oleh karenanya.
Kedua, menulis itu melatih merangkai kata, frase, hingga menjadi sebuah kalimat indah, kaya penyair-penyair gitu deh… [proses belajar loh ini… he] karena jujur ada beberapa penulis dari sekian banyak penulis yang teramat saya kagumi karya-karya nya. Mengapa? Karena karya mereka bukan sembarang karya yang banyak beredar seperti sekarang ini, upz..
Jadi mereka yang saya kagumi tulisannya itu, memang benar. Mereka punya ciri khas yang membedakan dengan yang lainnya. [pembeda]. Ckckc
Bukan saja rangkaian kata-katanya, namun yang terpenting adalah makna indah yang tersampaikan dengan baik, sehingga dapat meresap pada ruh-ruh si pembaca.

*Karena cahaya takkan bisa memantul pada kaca yang berdebu.

Selanjutnya, saya meniru orang, kata mereka di luar sana menulis juga bisa dijadikan bagian dari dakwah kita loh, mangkannya hati-hati jika ingin memulai menulis, karena sekecil apapun perbuatan kita akan ada balasannya, inga !! inga !!!, ting :-*
So, menulis lah dengan baik,
Karena menulismu = dakwahmu. cmiwww


Ini hasil copas :-*

Pekerjaan saya seringkali ngutip sana ngutip sini,
sering sekali pula saya menshare beberapa tulisan yang di dalamnya mengandung manfaat, meski hanya secuil...
dan... tulisan ini salah satunya, tulisan tanpa judul yang saya copas dari salah satu temen FB yang tidak mencantumkan sumbernya dari mana.
selamat membaca & mengambil ibrah... ^,^
 

Seseorang datang kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi'i justru menyuruh dia untuk menemui orang yang mengupahnya supaya mengurangi gajinya menjadi 4 dirham. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi'i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi'i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi'i memerintahkannya untuk kembali menemui orang yang mengupahnya dan minta untuk mengurangi lagi gajinya menjadi 3 dirham. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi'i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi'i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi'i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Lalu Imam Syafi'i membacakan sebuah sya'ir:

جمع الحرام على الحلال ليكثره
دخل الحرام على الحلال فبعثره

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya ia menjadi banyak.

Yang harampun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.

_____

Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerja sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

Bila gaji yang kita terima tidak seimbang dengan kerja, artinya kita sudah menerima harta yang bukan hak kita. Itu semua akan menjadi penghalang keberkahan harta yang ada, dan mengakibatkan hisab yang berat di akhirat kelak.

Harta yang tidak berkah akan mendatangkan permasalahan hidup yang membuat kita susah, sekalipun bertaburkan benda-benda mewah dan serba lux. Uang banyak di bank tapi setiap hari cek-cok dengan istri. Anak-anak tidak mendatangkan kebahagiaan sekalipun jumlahnya banyak. Dengan teman dan jiran sekitar tidak ada yang baikan.

Kendaraan selalu bermasalah. Ketaatan kepada Allah semakin hari semakin melemah. Pikiran hanya dunia dan dunia. Harta dan harta. Penglihatan selalu kepada orang yang lebih dalam masalah dunia. Tidak pernah puas, sekalipun mulutnya melantunkan alhamdulillah tiap menit.

Kening selalu berkerut. Satu persatu penyakitpun datang menghampir. Akhirnya gaji yang besar habis untuk cek up ke dokter sana, periksa ke klinik sini. Tidak ada yang bisa di sisihkan untuk sedekah, infak dan amal-amal sosial demi tabungan masa depan di akhirat. Menjalin silaturrahim dengan sanak keluarga pun tidak. Semakin kelihatan mewah pelitnya juga semakin menjadi. Masa bodoh dengan segala kewajiban kepada Allah. Ada kesempatan untuk shalat ya syukur, tidak ada ya tidak masalah.

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita kemampuan untuk serius dalam bekerja dan itqan, hingga rezeki kita menjadi berkah dunia dan akhirat.

Kamis, 16 Januari 2014

Katakan: Tidak Menjadi Ranting Kering Tarbiyah

By: Nandang Burhanudin
*****

Liqaat menghadirkan rasa yang tak biasa
Seminggu berlalu, jiwa dibalut resah lara
Lelah berubah syahdu dan semangat menggelora
Letih berbuah hamasah yang menyemburatkan asa

Di taman itu kami duduk mengkaji mimpi
Mimpi besar yang menggeliat mencipta aksi
Mengusir khayal kelabu yang mengilusi
Membersihkan awan yang mengkabut mentari

Di taman itu kulihat tak sedikit pohon yang meranggas
Tak kuasa menghadapi perubahan musim yang teramat ganas
Daun-daun harapan gugur sebelum musim panas
Sebagian membakar diri dan mematikan tunas-tunas

Ohhh ... ia adalah ranting tarbiyah yang mulai mengering
Letih meranggas di antara hijau daun yang semakin penting
Tergopoh digoyang debu gulana yang membuatnya terpelanting
Merasa dulu nomor satu namun sekian lama menjadi nomor bunting

Demi Allah ... taman tarbiyah tak pernah membuat resah
Gemerisik dedaunan hal biasa dan menambah panorama indah
Dibalut mesra tunas muda yang tumbuh dalam buai mesra ukhuwah
Namun retakan rapuh ranting kering itu yang terjatuh pasrah

Wahai kawan mari kembali kita datangi taman agar tak lagi belukar
Yakinlah di setiap ranting patah akan tunas-tunas mekar
Tumbuh kekar menerjang angin prahara dan halilintar yang menggelegar
Menyerap energi matahari menyalurkan energi hingga menghujamkan akar

Minggu, 12 Januari 2014

Subuh itu momen-nya sesuatu…



Suka sekali setiap kali subuh itu datang, entah kenapa, aku selalu suka dengan suasananya,,,
Pagi ini, senin berkah, meski terjaga lebih siang dari biasanya, tapi Alhamdulillah, Allah tak mencabut nikmatnya Tahajjud darinya,
Yang berbeda kali ini adalah saat aku bisa meng-imami seorang wanita separuh baya yang Ridho Allah ada padanya. Yap betul, dia adalah bidadariku (ibu…)
Sesekali lantunan ayat suci itu memecah kesunyian pagi,
Dengan diselingi suara tangisan bayi merah yang baru genap berusia dua minggu,
Mendesir angin meniup lembut mengusap setiap ubun-ubun,
Pagi itu… memang terasa lebih dingin dari biasanya, efek hujan yang setia sedari kemarin sore mungkin penyebabnya.

Suasana pagi itu…
Ah, tak bisa terdefinisikan dengan kata-kata.
Ia adalah waktu dimana saat orang-orang memulai kehidupan barunya,
Saat dimana kedekatan dengan Tuhan tanpa batas,
Saat dimana sebagian orang menikmati lembutnya kapuk dibalut hangatnya selimut tebalnya,
Namun juga ada segelintir orang yang lebih memilih nikmat berduaan dengan Tuhannya,
Berlinang air mata teringat akan dosa-dosa yang kian menumpuk, sementara sisa umurnya tentu semakin berkurang…
Bersujud, bertafakur, memohon ampunan Rabb nya.
Duhai Tuhan,
Terima kasih atas nikmat ini,
Nikmat yang ternyata tak semua orang bisa merasakannya.
Nikmat yang tidak didapatkan di waktu-waktu yang lain.
Nikmat yang,,, ah sudahlah, rasanya lidah ini tak bisa mewakili keindahan itu.

Sabtu, 04 Januari 2014

Dan mereka bersaudara karena Allah…



Terperangah kota Qadisiyah menyaksikan pasukan Muhajirin dan Anshar menyebrangi sungai yang membatasi mereka dengan kamp pasukan persia. Bangsa arab yang ‘tak mengenal air ’ ini menjadi begitu berani, saling bergandengan tangan, berangkulan membelah Eufrat yang deras…
Rombongan itu tiba-tiba berhenti ditengah arus yang ganas dan semuanya membungkuk meraba-raba kedalam riak. “Qa’bku ! Qa’bku !, kantong airku ! kantong airku jatuh !” seru salah satu anggota pasukan kaum muslimin yang kantong airnya jatuh. Hal ini membuat puluhan ribu tangan seketika mengaduk-aduk Eufrat untuk mencarinya.
Panglima Persia dan pasukannya yang sedang dag dig dug menanti di seberang dengan pedang terhunus tercekat tenggorokannya. HANYA karen sebuah kantong air semua paskan mengaduk-aduk sungai raksasa??? “ Lalu bagaimana kalau salah satu dari mereka terbunuh oleh kita?” serunya.
cerita di atas adalah penggalan dari buku ‘Saksikan bahwa Aku seorang muslim” merupakan bagian dari ratusan, atau bahkan ribuan cerita yang menggambarkan begitu indahnya ukhuwah islamiyyah (pada zaman Rasulullah)
jika membaca sederetan kehidupan masa lalu para sahabat Rasul yang maha mulia, terlebih mendengar cerita perlakuan kaum Anshar pada kaum Muhajirin,  pantaslah jika dikatakan,“Tidak ada golongan manusia yang lebih mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar yang bersedia MEMBAGI DUA semua miliknya, entah itu kebun, toko, budak, rumah, bahkan istrinya sekalipun akan di ceraikan jikalau ada ada dari kaum Muhajirin yang menyukainya. Subhanallah… begitu indah mendengarnya,terlebih jika kita bisa merasakan kehidupan pada zaman itu.
Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabdaJanganlah saling mendengki saling menipu saling membenci saling memutuskan hubungan dan janganlah sebagian kamu menyerobot transaksi sebagian yg lain jadilah kalian hamba-hamba Allah yg bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim yg lain tidak boleh menzhaliminya membiarkannya mendustainya dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada di sini beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang dianggap kejahatan krn melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya hartanya dan kehormatannya“.

 Beberapa tulisan di atas cukup banyak menginspirasi untuk saya pribadi, rasa-rasanya masih sangat-sangat  jauh  jika harus di bandingkan dengan kaum Anshar, atau seperti Ali bin Abi thalib yang rela menggantikan posisi Rasulullah di atas ranjang yang pada saat itu dalam kepungan musuh yang ingin membunuh Beliau, semua itu dapat dilakukan tanpa beban karena ke CINTAan mereka pada saudaranya.Mendambakan  cerita-cerita bersejarah itu terulang di Zaman sekarang rasanya bukan mimpi disiang bolong, yap, karena Allah telah menjanjikan dalam surat cinta-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah diantara kedua saudaramu, dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat 10)”
Sehingga kutipan cantik dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyah”Sesungguhnya siapa saja yang senang kepadamu karena adanya keinginan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”.
Dapat dijadikan kunci untuk mencapai kesucian ukhuwah yang dirindukan oleh setiap insan yang IKHLAS.

* Daripada Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda: “Tidak terjadi hari kiamat itu sehingga Sungai Eufrat menjadi surut airnya sehingga ternampak sebuah gunung daripada emas. Ramai orang yang berperang untuk merebutkannya. Maka terbunuh sembilan puluh sembilan daripada seratus orang yang berperang. Dan masing-masing yang terlibat berkata “mudah-mudahan akulah orang yang terselamat itu”.”
             
[Catatan lama]                                         
By :Sofia Hanum                                                                   Friday 3rd feb, 2012

Rabu, 01 Januari 2014

Ketika Sabar Harus Tak Terbatas

Di usia yang telah melewati angka 20 atau bahkan lebih dari itu, tak sedikit yang mengalami goncangan-goncangan hati bagi para jomblo (baca: single). Usia yang terbilang rawan menurut saya, dimana pada masa itu gejala ingin di cintai dan di sayangi sangatlah besar. Belum lagi melihat keadaan sekitar yang sangat membuat hati miris karena masih sendiri. Ya, fenomena pacaran.
Bersyukur bagi mereka yang telah Allah pertemukan dengan pendamping hidupnya tanpa harus berjuang untuk melawan perasaan hati yang tak menentu menahan gejolak nafsu. Namun lain hal untuk mereka yang memang belum di takdirkan untuk segera menikah.
Tapi yakinlah, bahwasanya Allah akan memberikan sesuatu yang kita butuhkan namun bukan yang kita inginkan. Jika keyakinan telah terpatri, Insya ALLAH hati akan merasa nyaman dengan segala keputusanNYA. Sebagai orang yang telah meyakini janji Tuhannya, hendaknya setelah itu jangan merusak keyakinan tersebut dengan perilaku yang dapat merubah keputusan ALLAH. Ketika telah yakin, hendaknya tak usah berlebihan dalam mencari pasangan misalnya dengan mengikuti pergaulan zaman sekarang, misalnya pacaran. Jika itu terjadi, apa gunanya keyakinan yang telah terbentuk di awal namun ternodai dengan nafsu dan kesabaran yang terbatas.
Sederet janji ALLAH untuk mereka yang bersabar, balasannya adalah surga. Apalagi untuk menahan hawa nafsu, sebanding dengan pahala jihad. Karena jihad terbesar adalah menahan hawa nafsu. Ketika kesabaran menjadi terbatas dan hati telah yakin pada ketetapanNYA, maka menikah bisa menjadi solusinya. Meskipun secara kasat mata, kemampuan belum memadai namun janji ALLAH untuk memberikan kemudahan bagi seorang muslim yang melakukan kebaikan hendaknya tak perlu di ragukan. Namun jika telah maksimal berusaha dan belum menampakkan hasil, baiknya sabar harus tetap tak terbatas. ALLAH akan selalu mendengar doa hambaNYA. Bila bukan sekarang, mungkin belum saatnya, karena ALLAH Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNYA. Jika hati terkadang rapuh atau merasa putus asa. Ingatlah bahwa ALLAH tak pernah ingkar janji, mungkin ada yang salah dengan diri kita dan selayaknya kita selalu  berprasangka baik kepada ALLAH. Jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa. Karena ALLAH akan selalu menggenggam doa dan mimpi para hambaNYA selama hambaNYA yakin dan mau berusaha mewujudkannya.
Ketika ALLAH belum mengabulkan doa hambaNYA untuk bersanding dengan pasangan hidupnya. Hendaknya sikap istiqamah terus dimaksimalkan. Tetap menahan hawa nafsu. Karena bisa jadi saat penantian itulah kita benar-benar di uji seberapa pantasnya kita mendapatkan seseorang yang cocok untuk kita. Bukankah ALLAH telah berjanji, bahwa pria yang baik adalah untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Tidak mudah memang menahan cobaan di usia yang rentan  akan gejolak hati, namun jika kita bisa melewatinya dengan baik maka ALLAH akan memberikan balasan yang jauh lebih baik pula.
Karena pada dasarnya ALLAH teramat sayang dengan kita, tak membiarkan kita jatuh ke dalam jurang dosa. Walaupun kadangkala kita sendiri yang menceburkan diri dengan sengaja ke jurang tersebut. ALLAH akan menolong kita, jika kita ingin ditolong dan ALLAH akan menjaga kita, jika kita ingin dijaga. Jangan bermain dengan api jika tak ingin terbakar. Cukup ALLAH sebagai penghibur hati di saat hati kita sedang sedih.
Allahua’lam.

SUMBER : Dakwatuna